Belajar Spiritual Intelligence dari Tukang Becak (2)
By M. Suyanto
Kita memang perlu belajar banyak dari tukang becak untuk meningkatkan terus Spiritual Intelligence kita. Saya teringat kembali kejadian beberapa tahun silam, ketika saya berjalan di Kota Besar. Truk yang ditumpangi Bapak-bapak berseragam petugas penertiban kota, tiba-tiba berhenti di dekat saya dan sekitar sepuluh Bapak-bapak petugas tersebut turun dari truknya. Apakah akan menangkap saya? Kalau ditangkap saya salah apa? Ternyata menghentikan becak yang membawa penumpang yang lewat di sebelah saya. Kemudian, tanpa basa-basi menyuruh penumpang becak tersebut turun dan mengambil barang yang ada di becak tersebut. Penumpang tersebut bingung, kenapa ia disuruh turun dan mengambil barangnya dalam becak. Bapak petugas tersebut agak kasar, sehingga penumpang becak tersebut mengikuti perintah Bapak-bapak petugas ketertiban tersebut. Setelah penumpang turun dan mengambil barangnya, tiba-tiba Bapak-bapak petugas tersebut merampas becak tersebut, Tukang becak tersebut mempertahankan mati-matian. Satu orang melawan sepuluh orang, tukang becak tersebut tidak berdaya dan terjatuh. Becak tersebut dinaikkan ke dalam truk dan truk tersebut berjalan meninggalkan kami. Tukang becak melihat becaknya dibawa truk tersebut, menangis sejadi-jadinya sambil memukul-mukul kepalanya seperti anak kecil, ia sangat kehilangan satu-satunya senjata pamungkas untuk mengais rezki. Sangat mengenaskan. Saya bersama penumpang becak menyaksikan kejadian yang sangat memilukan, hanya dapat meniteskan air mata dan berdoa mudah-mudahan Tukang becak tersebut diberi kasabaran dan ketabahan menerima cobaan tersebut serta pemimpin yang menyuruh merampas becak tersebut diberikan kepekaan hati.
Truk yang membawa becak rampasan tersebut telah meninggalkan kami bertiga, kemudian berbelok ke ke kanan dan tidak terlihat kembali. Sementara Tukang becak tersebut masih menangis tanpa henti, menyisakan kenangan yang sangat pahit. Beberapa hari kemudian saya membaca di salah satu surat kabar, kalau becak-becak yang telah dirampas tersebut oleh para petugas diceburkan ke laut, sebagai barang yang tidak ada harganya sama sekali. Memang mereka memandang bahwa becak itu yang membuat keindahan kota menjadi berkurang, supaya tidak ada lagi becak, maka satu-satunya jalan adalah memasukkan ke laut, sehingga lama kelamaan, becak harus hilang dari peredaran. Sudut pandang yang sangat berlawanan dengan tukang becak, yang memandang becak bukan sebagai masalah yang kecil, tetapi masalah yang sangsat besar. Bahkan saya membaca di surat kabar seorang tukang becak sampai ada yang melakukan bunuh diri, karena becaknya dirampas. Sebelum bunuh diri, ia menulis surat sebagai pesan terakhir, kenapa ia bunuh diri. Masalahnya hanya satu “becaknya dirampas”.
Orang-orang tersisih tersebut ingin diperlakukan adil sebagai warga Indonesia. Tetapi kemana, harus minta peradilan? Para orang tersisih itu tidak tahu. Akhirnya hanyalah berpasrah diri kepada Tuhan Yang Maha Adil yang dapat memberikan keadilan seadil-adilnya. Saya mendoakan semoga para tukang becak yang dirampas becaknya dan orang yang tersisih di perusahaan tetap tabah dan sabar serta tidak melakukan bunuh diri, meskipun hal itu sangat sulit, tetapi kalau bisa maka ia akan menjadi orang yang mulia di sisi Tuhan. Kita memang perlu belajar banyak dari tukang becak dan orang-orang yang tersisih untuk meningkatkan terus Spiritual Intelligence kita agar kita menjadi orang yang sukses sejati.
Tampilkan postingan dengan label Kecerdasan Spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kecerdasan Spiritual. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 Oktober 2010
Belajar Spiritual Intelligence dari Tukang Becak (1)
Belajar Spiritual Intelligence dari Tukang Becak (1)
By M. Suyanto
Dalam seminar yang diadakan Beritanet.com dalam rangka hari jadi satu tahun, berita online tersebut, diawali dengan rangkaian pidato sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh General Manager PT Telkom Kandatel Yogyakarta, Ir Nyoto Priyono MM dan Depkominfo Dr Ir Ari Santoso DEA. Sambutan yang paling menarik menurut saya adalah sambutan berikutnya yang disampaikan oleh Pak Gondowijoyo, pemilik Penerbit Andi dan sekaligus Pimpinan Beritanet.com. Sambutan Pak Gondo menegaskan pentingnya membangun harkat hidup dan martabat bangsa Indonesia melalui bidang pendidikan. Hidup harus mempunyai nilai bagi masyarakat, kemudian Pak Gondo menceritakan tentang seorang ibu yang berasal dari Malang. Ibu tersebut selalu setia pergi ke kantor mengendarai becak, meskipun ibu tersebut mempunyai mobil. Para tukang becak kenal dengan ibu tersebut. Tukang becak dekat dengan Sang ibu tersebut. Hari itu terasa sepi, biasanya Ibu tersebut pagi dengan tukang becak dan sore pulang dari kantor juga dengan tukang becak, tetapi Ibu tersebut tidak kelihatan. Tukang becak menunggu-nunggu, tetapi tidak muncul juga. Tukang becak rindu dengan ibu tersebut untuk selalu ingin bersamanya, mengobrol mulai dari keluarga sampai pekerjaan. Para tukang becak merasakan dihargai, dimanusiakan, karena biasanya para tukang becak itu merasa dikesampingkan oleh pemerintah atau oleh sebagian kita. Kadangkala digusur, tidak boleh mengendarai becak di jalan tertentu, dilarang keras. Seminggu sudah kerinduan yang dinantikan para tukang becak belum terobati, karena ibu yang ditunggu-tunggu tersebut belum muncul juga. Para tukang becak memperoleh kabar, ternyata ibu tersebut menderita sakit. Tidak begitul lama Sang ibu yang dijadikan tempat berkeluh kesah dan tempat mengobrol tersebut telah dipanggil Pemiliknya, Tuhan Yang Maha Esa. Para tukang becak tersebut merasa kehilangan orang yang selama ini menghargainya. Pada saat pemberangkatan menuju pemakaman terasa sepi, tidak seperti pemakaman orang terkenal yang dihadiri tamu yang bermobil berderet-deret, kadangkala tidak berdoa, tetapi mengobrol ke sana ke mari, kadangkala mengobrol masalah institusinya, masalah bisnisnya, kadangkala di situlah mereka dapat bertemu kawan selevelnya. Tidak kelihatan para tukang becak, barangkali para tukang becak itu baru mencari rezeki untuk dapat menghidupi keluarganya, tetapi saat jenazah diberangkatkan tiba-tiba berdatangan bukan hanya satu tukang becak, tetapi puluhan tukang becak dengan becaknya menghantarkan pemakaman ibu tersebut. Para tukang becak itu tidak saling mengobrol, tetapi saling menangis, mengenang jasa Ibu tersebut. Meskipun kecil, tetapi sangat membekas di hati para tukang becak. “Ibu memilih naik becak daripada naik mobilnya.” kata salah seorang tukang becak dengan mata yang berkaca-kaca. “Ibu itu orangnya dermawan,” kata kawannya sambil mengeluarkan airmatanya. “Ibu itu nguwongke tukang becak,” kata tukang becak yang lain sambil mengusap air matanya. Selamat jalan ‘Ibu Tukang Becak’ menemui Sang Penciptamu, semoga jasamu tak terlupakan. Kami selalu merindukan lahir Ibu-ibu tukang becak sesudahmu. Doa yang sederhana dari para tukang becak. Saya yakin doa itu adalah doa yang dapat menembus langit dan sangat didengarkan oleh Tuhan Sang Maha Pendengar.
By M. Suyanto
Dalam seminar yang diadakan Beritanet.com dalam rangka hari jadi satu tahun, berita online tersebut, diawali dengan rangkaian pidato sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh General Manager PT Telkom Kandatel Yogyakarta, Ir Nyoto Priyono MM dan Depkominfo Dr Ir Ari Santoso DEA. Sambutan yang paling menarik menurut saya adalah sambutan berikutnya yang disampaikan oleh Pak Gondowijoyo, pemilik Penerbit Andi dan sekaligus Pimpinan Beritanet.com. Sambutan Pak Gondo menegaskan pentingnya membangun harkat hidup dan martabat bangsa Indonesia melalui bidang pendidikan. Hidup harus mempunyai nilai bagi masyarakat, kemudian Pak Gondo menceritakan tentang seorang ibu yang berasal dari Malang. Ibu tersebut selalu setia pergi ke kantor mengendarai becak, meskipun ibu tersebut mempunyai mobil. Para tukang becak kenal dengan ibu tersebut. Tukang becak dekat dengan Sang ibu tersebut. Hari itu terasa sepi, biasanya Ibu tersebut pagi dengan tukang becak dan sore pulang dari kantor juga dengan tukang becak, tetapi Ibu tersebut tidak kelihatan. Tukang becak menunggu-nunggu, tetapi tidak muncul juga. Tukang becak rindu dengan ibu tersebut untuk selalu ingin bersamanya, mengobrol mulai dari keluarga sampai pekerjaan. Para tukang becak merasakan dihargai, dimanusiakan, karena biasanya para tukang becak itu merasa dikesampingkan oleh pemerintah atau oleh sebagian kita. Kadangkala digusur, tidak boleh mengendarai becak di jalan tertentu, dilarang keras. Seminggu sudah kerinduan yang dinantikan para tukang becak belum terobati, karena ibu yang ditunggu-tunggu tersebut belum muncul juga. Para tukang becak memperoleh kabar, ternyata ibu tersebut menderita sakit. Tidak begitul lama Sang ibu yang dijadikan tempat berkeluh kesah dan tempat mengobrol tersebut telah dipanggil Pemiliknya, Tuhan Yang Maha Esa. Para tukang becak tersebut merasa kehilangan orang yang selama ini menghargainya. Pada saat pemberangkatan menuju pemakaman terasa sepi, tidak seperti pemakaman orang terkenal yang dihadiri tamu yang bermobil berderet-deret, kadangkala tidak berdoa, tetapi mengobrol ke sana ke mari, kadangkala mengobrol masalah institusinya, masalah bisnisnya, kadangkala di situlah mereka dapat bertemu kawan selevelnya. Tidak kelihatan para tukang becak, barangkali para tukang becak itu baru mencari rezeki untuk dapat menghidupi keluarganya, tetapi saat jenazah diberangkatkan tiba-tiba berdatangan bukan hanya satu tukang becak, tetapi puluhan tukang becak dengan becaknya menghantarkan pemakaman ibu tersebut. Para tukang becak itu tidak saling mengobrol, tetapi saling menangis, mengenang jasa Ibu tersebut. Meskipun kecil, tetapi sangat membekas di hati para tukang becak. “Ibu memilih naik becak daripada naik mobilnya.” kata salah seorang tukang becak dengan mata yang berkaca-kaca. “Ibu itu orangnya dermawan,” kata kawannya sambil mengeluarkan airmatanya. “Ibu itu nguwongke tukang becak,” kata tukang becak yang lain sambil mengusap air matanya. Selamat jalan ‘Ibu Tukang Becak’ menemui Sang Penciptamu, semoga jasamu tak terlupakan. Kami selalu merindukan lahir Ibu-ibu tukang becak sesudahmu. Doa yang sederhana dari para tukang becak. Saya yakin doa itu adalah doa yang dapat menembus langit dan sangat didengarkan oleh Tuhan Sang Maha Pendengar.
Belajar Kecerdasan Spiritual dari Orang Kecil (4)
Belajar Kecerdasan Spiritual dari Orang Kecil (4)
Belajar Kecerdasan Spiritual dari Orang Kecil (4)
By M. Suyanto
Istri saya melanjutkan tulisannya ”Seperti yang kita ketahui angka perceraian setiap tahun terus meningkat, sebagian besar kasus perceraian saat ini adalah karena gugatan cerai dari pihak istri. Meningkatnya jumlah kasus perceraian khususnya cerai karena gugatan yang diajukan istri disebabkan oleh beberapa faktor antara lain oleh karena semakin banyak wanita yang telah mandiri secara finansial. Kemandirian istri secara finansial pada awalnya mempunyai tujuan yang mulia, disamping emansipasi wanita juga dengan bekerjanya istri sangat membantu keuangan keluarga. Tetapi dampak dari bekerjanya istri juga tidak kalah rumitnya. Pada perkawinan model baru, pria dan wanita ingin memiliki kedudukan yang setara,mereka membagi tugas rumah tangga dengan adil dan memutuskan bersama masalah masalah besar. Keduanya boleh bekerja di luar rumah. Ketika kelahiran anak anak, mereka berbagi tugas sama rata. Di atas kertas, semua terasa bagus, dan merupakan perbaikan dari perkawinan yang tidak sederajat di masa lalu. Pada kenyataanya, perubahan dari paradigma lama ke paradigma baru penuh rintangan dan hambatan. Adalah suatu kebohongan jika masyarakat menyatakan perkawinan sederajat (modern) lebih mudah daripada perkawinan tradisional. Yang benar menurutnya perkawinan sederajat mengizinkan kita menegosiasikan perbedaan dengan lebih adil tapi sering dengan kesulitan besar. Selain kebohongan tersebut diatas masih ada 6 enam lagi kebohongan perkawinan yang lainya, diantara yang cukup menarik adalah suatu kebohongan jika anak anak memperkuat perkawinan justru sebaliknya bahwa kehadiran anak bisa menjadi ancaman serius bagi perkawinan. Untuk mempertahankan perkawinan ternyata tak cukup hanya dengan cinta. Lepas dari setuju ataupun tidak dengan pendapatnya, buku ini tetap menarik untuk dibaca, ditulis dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna, dilengkapi dengan contoh kasus kasus nyata yang dialami oleh pasienya. Mungkin saja terasa menyakitkan jika dibaca oleh pembaca yang sedang atau sudah pernah mengalaminya. Akan tetapi tetap terasa manfaatnya bagi kita semua yang mempunyai komitmen untuk mempertahankan perkawinan sampai ajal menjemput.”
Bapak empat putra tersebut telah mengajarkan kepada kita, bahwa istrinya telah mengambil resiko besar dan sebenarnya juga tidak mau kakinya lumpuh. Istrinya telah berkorban banyak. Hal itu sesuai dengan firman Allah dalam surat An.Nisa 20 : ”Mereka (kaum istri) itu telah mengambil suatu perjanjian yang berat dari padamu sekalian”. Oleh karena itu kita memang harus berusaha untuk mempergauli istri kita dengan baik, berkomunikasi dnegan baik sebagai tanda kasih sayang. Tuhan juga menganjurkan kepada kita untuk mempergauli istri kita dengan baik. Kita juga perlu untuk berusaha tidak menyakiti hatinya, berusaha untuk mengajak bersendau-gurau dan memujinya untuk menyenangkan hatinya. Bahkan Rasulullah s.a.w. pernah bersabda kepada Jabir r.a. : ”Alangkah baiknya kalau istrimu itu seorang gadis yang engkau dapat bermain-main dengannya dan ia dapat bermain-main denganmu” (Bukhari dan muslim).
Bapak yang sederhana tersebut mampu mengalahkan salah satu musuh yang kita bertempur sepanjang hidup kita, yang merupakan penyakit hati yang besar dan tidak semua orang mampu mengalahkannya. Ia tetap mempergaulinya dengan baik, menyenangkan hatinya, melayaninya dengan luar biasa. Perang yang lebih besar dari Perang Badar adalah adalah perang mengalahkan hawa nafsu.
Belajar Kecerdasan Spiritual dari Orang Kecil (4)
By M. Suyanto
Istri saya melanjutkan tulisannya ”Seperti yang kita ketahui angka perceraian setiap tahun terus meningkat, sebagian besar kasus perceraian saat ini adalah karena gugatan cerai dari pihak istri. Meningkatnya jumlah kasus perceraian khususnya cerai karena gugatan yang diajukan istri disebabkan oleh beberapa faktor antara lain oleh karena semakin banyak wanita yang telah mandiri secara finansial. Kemandirian istri secara finansial pada awalnya mempunyai tujuan yang mulia, disamping emansipasi wanita juga dengan bekerjanya istri sangat membantu keuangan keluarga. Tetapi dampak dari bekerjanya istri juga tidak kalah rumitnya. Pada perkawinan model baru, pria dan wanita ingin memiliki kedudukan yang setara,mereka membagi tugas rumah tangga dengan adil dan memutuskan bersama masalah masalah besar. Keduanya boleh bekerja di luar rumah. Ketika kelahiran anak anak, mereka berbagi tugas sama rata. Di atas kertas, semua terasa bagus, dan merupakan perbaikan dari perkawinan yang tidak sederajat di masa lalu. Pada kenyataanya, perubahan dari paradigma lama ke paradigma baru penuh rintangan dan hambatan. Adalah suatu kebohongan jika masyarakat menyatakan perkawinan sederajat (modern) lebih mudah daripada perkawinan tradisional. Yang benar menurutnya perkawinan sederajat mengizinkan kita menegosiasikan perbedaan dengan lebih adil tapi sering dengan kesulitan besar. Selain kebohongan tersebut diatas masih ada 6 enam lagi kebohongan perkawinan yang lainya, diantara yang cukup menarik adalah suatu kebohongan jika anak anak memperkuat perkawinan justru sebaliknya bahwa kehadiran anak bisa menjadi ancaman serius bagi perkawinan. Untuk mempertahankan perkawinan ternyata tak cukup hanya dengan cinta. Lepas dari setuju ataupun tidak dengan pendapatnya, buku ini tetap menarik untuk dibaca, ditulis dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna, dilengkapi dengan contoh kasus kasus nyata yang dialami oleh pasienya. Mungkin saja terasa menyakitkan jika dibaca oleh pembaca yang sedang atau sudah pernah mengalaminya. Akan tetapi tetap terasa manfaatnya bagi kita semua yang mempunyai komitmen untuk mempertahankan perkawinan sampai ajal menjemput.”
Bapak empat putra tersebut telah mengajarkan kepada kita, bahwa istrinya telah mengambil resiko besar dan sebenarnya juga tidak mau kakinya lumpuh. Istrinya telah berkorban banyak. Hal itu sesuai dengan firman Allah dalam surat An.Nisa 20 : ”Mereka (kaum istri) itu telah mengambil suatu perjanjian yang berat dari padamu sekalian”. Oleh karena itu kita memang harus berusaha untuk mempergauli istri kita dengan baik, berkomunikasi dnegan baik sebagai tanda kasih sayang. Tuhan juga menganjurkan kepada kita untuk mempergauli istri kita dengan baik. Kita juga perlu untuk berusaha tidak menyakiti hatinya, berusaha untuk mengajak bersendau-gurau dan memujinya untuk menyenangkan hatinya. Bahkan Rasulullah s.a.w. pernah bersabda kepada Jabir r.a. : ”Alangkah baiknya kalau istrimu itu seorang gadis yang engkau dapat bermain-main dengannya dan ia dapat bermain-main denganmu” (Bukhari dan muslim).
Bapak yang sederhana tersebut mampu mengalahkan salah satu musuh yang kita bertempur sepanjang hidup kita, yang merupakan penyakit hati yang besar dan tidak semua orang mampu mengalahkannya. Ia tetap mempergaulinya dengan baik, menyenangkan hatinya, melayaninya dengan luar biasa. Perang yang lebih besar dari Perang Badar adalah adalah perang mengalahkan hawa nafsu.
Belajar Kecerdasan Spiritual dari Orang Kecil (3)
Belajar Kecerdasan Spiritual dari Orang Kecil (3)
By M. Suyanto
Pelajaran yang luar biasa dari seorang Bapak yang sederhana. Ternyata perkawinan itu tidak hanya memenuhi hawa nafsu, tetapi membutuhkan kecerdasan spiritual yang sangat tinggi, menempatkan perilaku suami mempunyai makna dihadapan istrinya atau sebaliknya. Kecerdasan spiritual yang tinggi membutuhkan pengorbanan yang besar, pengabdian yang besar dan menenggelamkan ego dalam-dalam.
Globalisasi dan kapitalisme yang menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, merupakan monster yang dapat memakan dirinya sendiri, membuat kecerdasan spiritual kita terkikis sedikit demi sedikit. Dari resensi buku yang ditulis istri saya berjudul All You Need Is Love and Other Lies About Marriage dikarang oleh John W.Jacobs. Begitu lemahkah ikatan perkawinan pada zaman sekarang? Pertanyaan itu muncul ketika hampir setiap hari kita mendengar berita perceraian yang menimpa para selebritis maupun yang terjadi pada masyarakat awam. Rasanya satu atau dua generasi yang lalu sangat takut, anti dan menggagap perceraian adalah dosa besar, khususnya untuk wanita. Sekarang jumlah perceraian hampir sama besarnya dengan jumlah perkawinan. Lantas apa penyebab semakin merapuhnya ikatan perkawinan?.
Banyak sudah buku buku tentang perkawinan yang ditulis oleh dan untuk wanita buku yang bisa menjawab pertanyaan tersebut, akan tetapi buku tentang perkawinan yang ditulis oleh laki laki dan diperuntukkan untuk laki laki maupun wanita masih sangat jarang. John W.Jacobs penulis buku ini adalah psikiater yang sudah berpraktek dan melayani pasien pasiennya hampir 30 tahun. Kebetulan juga selain harus menghadapi masalah perceraian dengan pasien pasienya John juga mengalami masalah perceraian dengan istrinya sehingga dia bisa merasakan penderitaaan emosional dari perceraian yang tidak dapat dihindari.Walaupun begitu buku yang ia tulis bukan buku ilmiah atas penelitian perkawinan tetapi hanyalah rangkuman dari yang ia pelajari dan bekerja dengan ratusan pasangan dan individu.
Menurutnya ada beberapa point penting yang harus diketahui jika kita menginginkan perkawinan yang lebih baik dan hubungan yang bisa bertahan lama, yaitu kita harus waspada pada kekuatan sosial, sejarah dan bahkan biologi yang sangat kuat yang melemahkan perkawinan. Menurutnya kita tidak hanya membutuhkan bekal ketrampilan ketrampilan untuk membuat hubungan yang berhasil seperti bekal ketrampilan berkomunikasi, tetapi kita juga harusnya menyadari bahwa kita hidup dalam masyarakat yang penuh kebohongan tentang perkawinan, begitu banyak kesalah pahaman, mitos, dongeng yang sudah terlalu dalam tertanam dalam pikiran kita,dan tidak kita sadari sehingga kita jarang melihat perkawinan dengan pengharapan yang masuk akal. Sebagian besar penulis buku perkawinan menyatakan bahwa jika perkawinan yang tidak berhasil dilanjutkan atau terputus ditengah jalan itu semua kesalahan kita, masalah kita, dan kita harus bisa memperbaikinya. Sebaliknya, menurut pengamatanya banyak faktor penyebab hancurnya perkawinan tidak disebabkan oleh masalah emosional pribadi, tapi oleh faktor-faktor di luar diri kita yang kita tidak mengerti. Ketika masalahnya mulai, kita gagal mengetahui bahwa kekuatan-kekuatan yang menghancurkan ini masih mempengaruhi dan menyakiti hubungan kita. Kita memang harus belajar dari Bapak yang sederhana tersebut dalam bersikap terhadap istrinya. Rasulullah s.a.w. bersabda :”Sebaik-baik kamu semua adalah yang terbaik sikapnya terhadap keluarganya dan saya adalah yang terbaik di antara kamu semua ini terhadap keluargaku sendiri” (Tirmidzi).
By M. Suyanto
Pelajaran yang luar biasa dari seorang Bapak yang sederhana. Ternyata perkawinan itu tidak hanya memenuhi hawa nafsu, tetapi membutuhkan kecerdasan spiritual yang sangat tinggi, menempatkan perilaku suami mempunyai makna dihadapan istrinya atau sebaliknya. Kecerdasan spiritual yang tinggi membutuhkan pengorbanan yang besar, pengabdian yang besar dan menenggelamkan ego dalam-dalam.
Globalisasi dan kapitalisme yang menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, merupakan monster yang dapat memakan dirinya sendiri, membuat kecerdasan spiritual kita terkikis sedikit demi sedikit. Dari resensi buku yang ditulis istri saya berjudul All You Need Is Love and Other Lies About Marriage dikarang oleh John W.Jacobs. Begitu lemahkah ikatan perkawinan pada zaman sekarang? Pertanyaan itu muncul ketika hampir setiap hari kita mendengar berita perceraian yang menimpa para selebritis maupun yang terjadi pada masyarakat awam. Rasanya satu atau dua generasi yang lalu sangat takut, anti dan menggagap perceraian adalah dosa besar, khususnya untuk wanita. Sekarang jumlah perceraian hampir sama besarnya dengan jumlah perkawinan. Lantas apa penyebab semakin merapuhnya ikatan perkawinan?.
Banyak sudah buku buku tentang perkawinan yang ditulis oleh dan untuk wanita buku yang bisa menjawab pertanyaan tersebut, akan tetapi buku tentang perkawinan yang ditulis oleh laki laki dan diperuntukkan untuk laki laki maupun wanita masih sangat jarang. John W.Jacobs penulis buku ini adalah psikiater yang sudah berpraktek dan melayani pasien pasiennya hampir 30 tahun. Kebetulan juga selain harus menghadapi masalah perceraian dengan pasien pasienya John juga mengalami masalah perceraian dengan istrinya sehingga dia bisa merasakan penderitaaan emosional dari perceraian yang tidak dapat dihindari.Walaupun begitu buku yang ia tulis bukan buku ilmiah atas penelitian perkawinan tetapi hanyalah rangkuman dari yang ia pelajari dan bekerja dengan ratusan pasangan dan individu.
Menurutnya ada beberapa point penting yang harus diketahui jika kita menginginkan perkawinan yang lebih baik dan hubungan yang bisa bertahan lama, yaitu kita harus waspada pada kekuatan sosial, sejarah dan bahkan biologi yang sangat kuat yang melemahkan perkawinan. Menurutnya kita tidak hanya membutuhkan bekal ketrampilan ketrampilan untuk membuat hubungan yang berhasil seperti bekal ketrampilan berkomunikasi, tetapi kita juga harusnya menyadari bahwa kita hidup dalam masyarakat yang penuh kebohongan tentang perkawinan, begitu banyak kesalah pahaman, mitos, dongeng yang sudah terlalu dalam tertanam dalam pikiran kita,dan tidak kita sadari sehingga kita jarang melihat perkawinan dengan pengharapan yang masuk akal. Sebagian besar penulis buku perkawinan menyatakan bahwa jika perkawinan yang tidak berhasil dilanjutkan atau terputus ditengah jalan itu semua kesalahan kita, masalah kita, dan kita harus bisa memperbaikinya. Sebaliknya, menurut pengamatanya banyak faktor penyebab hancurnya perkawinan tidak disebabkan oleh masalah emosional pribadi, tapi oleh faktor-faktor di luar diri kita yang kita tidak mengerti. Ketika masalahnya mulai, kita gagal mengetahui bahwa kekuatan-kekuatan yang menghancurkan ini masih mempengaruhi dan menyakiti hubungan kita. Kita memang harus belajar dari Bapak yang sederhana tersebut dalam bersikap terhadap istrinya. Rasulullah s.a.w. bersabda :”Sebaik-baik kamu semua adalah yang terbaik sikapnya terhadap keluarganya dan saya adalah yang terbaik di antara kamu semua ini terhadap keluargaku sendiri” (Tirmidzi).
Belajar Kecerdasan Spiritual dari Orang Kecil(2)
Belajar Kecerdasan Spiritual dari Orang Kecil(2)
By M. Suyanto
Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai atau kecerdasan untuk menempatkan perilaku hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.
Cinta sejati telah ditunjukkan oleh seorang Bapak kepada istrinya yang telah lumpuh tersebut merupakan kecerdasan spiritual yang tinggi. Cinta sejati tersebut tidak hanya dijalani setahun atau dua tahun, tetapi telah dijalin lebih dari 25 tahun. Perjalan waktu yang panjang. Ia merawat isterinya sambil membesarkan keempat buah hati mereka. Kini anak-anak mereka sudah dewasa dan si bungsu sudah kuliah. Sementara di antara kita, telah mempunyai istri yang cantik dan anak yang manis-manis, sehat jasmani dan rohani, dari mulutnya keluar kalimat yang indah dan merdu, orang pertama yang paling kita cintai di dunia ini dan tidak ada duanya dan telah mempertaruhkan nyawanya untuk anak kita, tetapi kadangkala kita masih mencoba untuk mencari istri yang lain. Meninggalkan istri dan anak-anak yang manis-manis. Pengalaman istri saya mendapingi ibu-ibu yang ditinggal suaminya menikah lagi mengatakan ”Datangnya cinta suami saya kepada wanita lain itu tiba-tiba saja. Seperti badai, dan kemudian rumah tangga itu berantakan”. Sedangkan para suami yang meninggalkan istrinya tersebut mengatakan ”Sudahlah cobaan ini cukup saya saja”. Memang kita harus banyak belajar kecerdasan spiritual kepada Bapak tersebut, sambil berdoa kepada Tuhan agar kita tidak tertarik dengan wanita lain dan mencotoh cinta sejati Bapak kepada istrinya yang lumpuh tersebut..
Pak Gondo melanjutkan ceritanya ”Suatu hari ketika mereka berkumpul, anak sulungnya bertanya :”Pak, sejak kecil kami melihat Bapak merawat Ibu dengan tulus, kami tidak pernah mendengar sedikitpun keluhan yang keluar dari bibir Bapak, ketika kami sudah dewasapun Bapak tidak mengijinkan kami untuk merawat Ibu seperti yang Bapak lakukan” “Mengapa Bapak tidak menikah lagi supaya ada yang mengurus Bapak dan kami yang mengurus Ibu ?” Jawab Bapak tersebut : “Anak-anakku, jika perkawinan dan hidup ini hanya sekedar untuk memenuhi hawa nafsu belaka, Bapak pasti sudah menikah lagi. Tapi satu hal yang perlu kalian ketahui, dengan adanya Ibu disamping Bapak, itu sudah cukup”. Ibu telah melahirkan kalian, anak-anak yang selalu rindukan dan memberi kebahagian buat Bapak. Bapak sangat menghargai Ibu kalian, karena ia sudah mengambil resiko menjadi pendamping Bapak, terutama saat kalian hadir didunia ini. Coba tanya Ibu kalian, apakah dia mengingnkan keadaanyya seperti yang sekarang ini ? Bapak bahagia karena kalian memikirkan kebahagiaan Bapak, tetapi apakah batin Bapak bisa bahagia meninggalkan Ibu kalian dalam keadaan seperti ini ?”.Anak-anaknya terdiam, mereka tak dapat menahan air mata haru mereka. Hari itu mereka menyelami kesejatian cinta Pria yang sudah menikahi Ibu mereka, yang sekaligus telah membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang.” Hawa nafsu merupakan musuh kita tanpa akhir, yang membuat kita buta dan tuli, yang menjadikan kita cinta dunia dan yang menghalangi kita mengabdi pada Tuhan. Pendidikan cinta sejati dalam keluarga yang mampu mengalahkan hawa nafsu perlu kita tiru. ”Pendidikan yang terbaik justru terjadi ditengah keluarga, yang memberikan teladan yang baik, yang memberikan pengaruh yang positip. Jikalau sebagian dari para pemuda-pemudi, para pemimpin bangsa ini juga para publik figur memiliki mental, moral, integritas dan cinta kasih seperti Bapak tersebut, pastilah bangsa ini akan menjadi bangsa besar yang bisa menjadi teladan untuk mewarnai dunia ini.” kata Pak Gondo mengakhiri tulisannya.
By M. Suyanto
Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai atau kecerdasan untuk menempatkan perilaku hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.
Cinta sejati telah ditunjukkan oleh seorang Bapak kepada istrinya yang telah lumpuh tersebut merupakan kecerdasan spiritual yang tinggi. Cinta sejati tersebut tidak hanya dijalani setahun atau dua tahun, tetapi telah dijalin lebih dari 25 tahun. Perjalan waktu yang panjang. Ia merawat isterinya sambil membesarkan keempat buah hati mereka. Kini anak-anak mereka sudah dewasa dan si bungsu sudah kuliah. Sementara di antara kita, telah mempunyai istri yang cantik dan anak yang manis-manis, sehat jasmani dan rohani, dari mulutnya keluar kalimat yang indah dan merdu, orang pertama yang paling kita cintai di dunia ini dan tidak ada duanya dan telah mempertaruhkan nyawanya untuk anak kita, tetapi kadangkala kita masih mencoba untuk mencari istri yang lain. Meninggalkan istri dan anak-anak yang manis-manis. Pengalaman istri saya mendapingi ibu-ibu yang ditinggal suaminya menikah lagi mengatakan ”Datangnya cinta suami saya kepada wanita lain itu tiba-tiba saja. Seperti badai, dan kemudian rumah tangga itu berantakan”. Sedangkan para suami yang meninggalkan istrinya tersebut mengatakan ”Sudahlah cobaan ini cukup saya saja”. Memang kita harus banyak belajar kecerdasan spiritual kepada Bapak tersebut, sambil berdoa kepada Tuhan agar kita tidak tertarik dengan wanita lain dan mencotoh cinta sejati Bapak kepada istrinya yang lumpuh tersebut..
Pak Gondo melanjutkan ceritanya ”Suatu hari ketika mereka berkumpul, anak sulungnya bertanya :”Pak, sejak kecil kami melihat Bapak merawat Ibu dengan tulus, kami tidak pernah mendengar sedikitpun keluhan yang keluar dari bibir Bapak, ketika kami sudah dewasapun Bapak tidak mengijinkan kami untuk merawat Ibu seperti yang Bapak lakukan” “Mengapa Bapak tidak menikah lagi supaya ada yang mengurus Bapak dan kami yang mengurus Ibu ?” Jawab Bapak tersebut : “Anak-anakku, jika perkawinan dan hidup ini hanya sekedar untuk memenuhi hawa nafsu belaka, Bapak pasti sudah menikah lagi. Tapi satu hal yang perlu kalian ketahui, dengan adanya Ibu disamping Bapak, itu sudah cukup”. Ibu telah melahirkan kalian, anak-anak yang selalu rindukan dan memberi kebahagian buat Bapak. Bapak sangat menghargai Ibu kalian, karena ia sudah mengambil resiko menjadi pendamping Bapak, terutama saat kalian hadir didunia ini. Coba tanya Ibu kalian, apakah dia mengingnkan keadaanyya seperti yang sekarang ini ? Bapak bahagia karena kalian memikirkan kebahagiaan Bapak, tetapi apakah batin Bapak bisa bahagia meninggalkan Ibu kalian dalam keadaan seperti ini ?”.Anak-anaknya terdiam, mereka tak dapat menahan air mata haru mereka. Hari itu mereka menyelami kesejatian cinta Pria yang sudah menikahi Ibu mereka, yang sekaligus telah membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang.” Hawa nafsu merupakan musuh kita tanpa akhir, yang membuat kita buta dan tuli, yang menjadikan kita cinta dunia dan yang menghalangi kita mengabdi pada Tuhan. Pendidikan cinta sejati dalam keluarga yang mampu mengalahkan hawa nafsu perlu kita tiru. ”Pendidikan yang terbaik justru terjadi ditengah keluarga, yang memberikan teladan yang baik, yang memberikan pengaruh yang positip. Jikalau sebagian dari para pemuda-pemudi, para pemimpin bangsa ini juga para publik figur memiliki mental, moral, integritas dan cinta kasih seperti Bapak tersebut, pastilah bangsa ini akan menjadi bangsa besar yang bisa menjadi teladan untuk mewarnai dunia ini.” kata Pak Gondo mengakhiri tulisannya.
BELAJAR KECERDASAN SPIRITUAL DARI ORANG KECIL (1)
BELAJAR KECERDASAN SPIRITUAL DARI ORANG KECIL (1)
By M. Suyanto
Saya mendapat sepucuk surat dari seseorang yang diantar oleh sahabat saya, Pak Joko Mumpuni, Direktur Penerbitan Andi Yogyakarta. Setelah saya buka, surat tersebut ternyata dari Pemilik Penerbitan Andi, Pak Gondowijoyo. ”Pak Yanto, jangan bosan-bosan yah kalau saya memberi masukan lagi, sebab saya sangat tertarik tulisan dan pembahasan oleh Bapak di koran KR setiap hari Sabtu itu. Disamping itu saya sangat prihatin sekali akan keadaan mental, moral budaya dan integritas sebagian besar para pemuda, para pemimpin di Indonesia ini. Selama 36 tahun saya ikut sedikit terlibat dalam pendidikan, kok kemajuannya masih kurang bagus, apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita” demikian tulis Pak Gondo dalam membuka tulisan tersebut.
Memang benar, pendidikan di negara-negara tetangga kita lebih maju, tetapi kita juga mulai menapak menuju kemajuan yang diharapkan negara maju. Kita harus belajar kerja keras dari negara maju. Globalisasi sarana negara maju untuk saling mempererat persaudaraan, saling membagi keahlian, saling mensinergikan pengetahuan dan saling memberdayakan sumberdaya alam. Pada kenyataannya negara maju tidak saling bersaudara, tetapi saling membunuh dalam dunia bisnis yang biasa disebut persaingan. Negara maju tidak saling membagi pengetahuan, tetapi negara berkembang harus membeli dengan harga yang sangat mahal dan negara maju melindunginya dengan hak paten sehingga negara berkembang tidak mampu membelinya. Globalisasi memandang dunia sebagai pasar yang dapat diperjualbelikan, bahkan dapat dibeli secara angsuran. Negara maju membeli secara angsuran, bahkan dapat dibayar 20 tahun kemudian terhadap sumberdaya alam yang dimiliki negara berkembang. Dibayar setelah sumberdaya alam di negara berkembang itu hampir habis. Jika tidak mau, maka negara berkembang ditekan dan kalau perlu diintervensi dengan menggerakkan militer besar-besaran, seperti kisah Afganistan dan Irak. Negara maju juga menularkan semangat individualisme yang membuat peningkatan keluarga. Perceraian lebih menonjol justru terjadi pada kelompok yang mempunyai penghasilan tinggi, para selebritis, bukan orang-orang kecil. Keretakan keluarga semakin menjadi-jadi. Dalam hal yang menyangkut keluarga, barangkali harus belajar kepada orang-orang kecil.
Kemudian Pak Gondo melanjutkan tulisannya dengan mengisahkan tentang seorang Bapak yang mempunyai cinta,moral dan integritas yang dapat kita pakai sebagai salah satu dasar pendidikan di negeri kita. “Di usianya yang senja, seorang Bapak yang berusia 58 tahun, mengisi hari-harinya dengan merawat istrinya yang sakit. Mereka sudah menikah 32 th dan dikaruniai 4 orang anak. Setelah melahirkan si bungsu, kaki istrinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan lagi. Memasuki tahun ketiga seluruh tubuhnya semakin lemah, bahkan lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari Sang Bapak, memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat isterinya keatas tempat tidur. Biasanya sebelum berangkat kerja, dia membopong isterinya ke depan TV supaya bisa menikmati acara televisi. Walau tak dapat berbicara, tetapi isterinya selalu berusaha tersenyum. Pekerjaan Bapak berputra empat tersebut yang tak jauh dari rumahnya, memungkinkan dia pulang pada jam makan siang untuk menyuapi isterinya. Pada waktu sore, ia memandikan isterinya dan menghbiskan sisa waktu sampai menjelang tidur, sembari menceritakan apa saja yang dia alami sepanjang hari. Isterinya hanya bisa memandanginya tanpa bisa memberi komentar”. Itulah cinta sejati yang perlu kita tiru, cinta yang merupakan pengabdian kepada Tuhan yang Maha Cinta kepada makhluknya.
By M. Suyanto
Saya mendapat sepucuk surat dari seseorang yang diantar oleh sahabat saya, Pak Joko Mumpuni, Direktur Penerbitan Andi Yogyakarta. Setelah saya buka, surat tersebut ternyata dari Pemilik Penerbitan Andi, Pak Gondowijoyo. ”Pak Yanto, jangan bosan-bosan yah kalau saya memberi masukan lagi, sebab saya sangat tertarik tulisan dan pembahasan oleh Bapak di koran KR setiap hari Sabtu itu. Disamping itu saya sangat prihatin sekali akan keadaan mental, moral budaya dan integritas sebagian besar para pemuda, para pemimpin di Indonesia ini. Selama 36 tahun saya ikut sedikit terlibat dalam pendidikan, kok kemajuannya masih kurang bagus, apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita” demikian tulis Pak Gondo dalam membuka tulisan tersebut.
Memang benar, pendidikan di negara-negara tetangga kita lebih maju, tetapi kita juga mulai menapak menuju kemajuan yang diharapkan negara maju. Kita harus belajar kerja keras dari negara maju. Globalisasi sarana negara maju untuk saling mempererat persaudaraan, saling membagi keahlian, saling mensinergikan pengetahuan dan saling memberdayakan sumberdaya alam. Pada kenyataannya negara maju tidak saling bersaudara, tetapi saling membunuh dalam dunia bisnis yang biasa disebut persaingan. Negara maju tidak saling membagi pengetahuan, tetapi negara berkembang harus membeli dengan harga yang sangat mahal dan negara maju melindunginya dengan hak paten sehingga negara berkembang tidak mampu membelinya. Globalisasi memandang dunia sebagai pasar yang dapat diperjualbelikan, bahkan dapat dibeli secara angsuran. Negara maju membeli secara angsuran, bahkan dapat dibayar 20 tahun kemudian terhadap sumberdaya alam yang dimiliki negara berkembang. Dibayar setelah sumberdaya alam di negara berkembang itu hampir habis. Jika tidak mau, maka negara berkembang ditekan dan kalau perlu diintervensi dengan menggerakkan militer besar-besaran, seperti kisah Afganistan dan Irak. Negara maju juga menularkan semangat individualisme yang membuat peningkatan keluarga. Perceraian lebih menonjol justru terjadi pada kelompok yang mempunyai penghasilan tinggi, para selebritis, bukan orang-orang kecil. Keretakan keluarga semakin menjadi-jadi. Dalam hal yang menyangkut keluarga, barangkali harus belajar kepada orang-orang kecil.
Kemudian Pak Gondo melanjutkan tulisannya dengan mengisahkan tentang seorang Bapak yang mempunyai cinta,moral dan integritas yang dapat kita pakai sebagai salah satu dasar pendidikan di negeri kita. “Di usianya yang senja, seorang Bapak yang berusia 58 tahun, mengisi hari-harinya dengan merawat istrinya yang sakit. Mereka sudah menikah 32 th dan dikaruniai 4 orang anak. Setelah melahirkan si bungsu, kaki istrinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan lagi. Memasuki tahun ketiga seluruh tubuhnya semakin lemah, bahkan lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari Sang Bapak, memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat isterinya keatas tempat tidur. Biasanya sebelum berangkat kerja, dia membopong isterinya ke depan TV supaya bisa menikmati acara televisi. Walau tak dapat berbicara, tetapi isterinya selalu berusaha tersenyum. Pekerjaan Bapak berputra empat tersebut yang tak jauh dari rumahnya, memungkinkan dia pulang pada jam makan siang untuk menyuapi isterinya. Pada waktu sore, ia memandikan isterinya dan menghbiskan sisa waktu sampai menjelang tidur, sembari menceritakan apa saja yang dia alami sepanjang hari. Isterinya hanya bisa memandanginya tanpa bisa memberi komentar”. Itulah cinta sejati yang perlu kita tiru, cinta yang merupakan pengabdian kepada Tuhan yang Maha Cinta kepada makhluknya.
Belajar Kecerdasan Spiritual dari Tukang Kayu (3)
Belajar Kecerdasan Spiritual dari Tukang Kayu (3)
By M. Suyanto, STMIK AMIKOM Yogyakarta
Kita telah belajar banyak dari tukang kayu dalam menjalani hidup, terutama dalam menyikapi anaknya yang menderita autis. Kita telah belajar bagaimana tukang kayu memandang anak sebagai titipan Tuhan yang tidak bisa ditukar dengan yang anak yang lain dan berusaha menjaga titipan Tuhan tersebut dengan baik. Kita juga telah belajar bagaimana tukang kayu tersebut menjalani hidupnya dengan penuh kesabaran, ketabahan dan penuh kasih sayang dalam mendapingi, mendidik dan mengobati anaknya dengan harapan anaknya sembuh di kemudian hari. Doa ia lantunkan setiap hari kepada Allah, karena Allah yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit, tetapi hingga kini anak itu belum diberikan kesembuhan.
Kisah tukang kayu tersebut mengingatkan saya kepada kawan saya yang juga mempunyai anak yang menderita autis. Kawan tersebut tiba-tiba berkunjung ke kantor saya. Setelah dipersilakan masuk oleh sekretaris saya, ia mengucapkan salam kepada saya dan sayapun membalas salam tersebut. Kemudian saya berjabat tangan dengannya. Saya mempersilakan duduk dan menanyakan kabar keluarganya. Ia menjawab seperti biasanya baik-baik saja. Ia mengemukakan keinginannya untuk mengundang saya mengisi seminar Entrepreneurship di kampusnya. Ia telah membaca buku saya yang sederhana dengan judul SMART IN Entrepreneur : Belajar dari Pengusaha Top Dunia., yang memotivasinya untuk menjadi pengusaha dan ingin menularkan kepada mahasiswanya. Setelah berbicara panjang mengenai entrpreneurship dan bagaimana jiwa entrepreneurship tersebut tertanam pada mahasiswanya, ia mulai berbicara mengenai keluarganya. Ia mulai bercerita tentang anak-anaknya. ”Anak saya yang kecil menderita autis Pak Yanto. Saya bersama istri sudah berusaha untuk mengobatinya dengan biaya yang banyak, tetapi belum diberi kesembuhan” kata kawan saya tersebut. ”Saya berdoa kepada Allah mudah-mudah putra Bapak diberi kesembuhan dari-Nya. Allah yang menurunkan penyakit, sekaligus yang menyembukan penyakit itu” saya menghibur. ”Saya berusaha saya kuat-kuatkan Pak Yanto, tetapi kadangkala istri saya merasa tidak kuat, karena mendapat cobaan yang berat. Saya juga berusaha untuk membesarkan hatinya untuk tetap kuat” kata kawan saya. ”Andaikan saya yang menjadi Bapak, barang kali saya juga tidak kuat” saya mencoba memahami perasaannya.
Sejenak kemudian, ia melanjutkan ceritanya : ”Sebenarnya saya dan istri saya masih kuat Pak Yanto, tetapi kadangkala tetangga dan kawan saya memojokkan saya dan istri saya. Lebih-lebih orang tua dan mertua saya yang membuat saya semakin berat.” Kemudian ia menirukan apa yang dikatakan orang tuanya ”Kamu itu dosanya apa to nak, kok anakmu seperti itu”. Kawan saya tersebut tidak bisa menjawab dan merasa bertambah sedih. Memikirkan anaknya saja sudah bersedih, apalagi dikomentari oleh orang tua, kawan dan tetangganya. Saya dapat merasakan betapa sedihnya andaikata saya menjadi kawan saya tersebut. Kemudian saya berkata kepada kawan saya tersebut ”Sesungguhnya Bapak itu manusia pilihan Tuhan. Anak penderita autis itu hanya dititipkan kepada manusia pilihan saja. Tidak ditipkan kepada orang biasa, seperti saya”. Dengan mata berkaca-kaca kawan saya tersebut mengatakan ”Hanya Pak Yanto yang mengatakan seperti itu. Selama ini saya tidak pernah ada orang yang mengatakan seperti itu”. Saya sangat beruntung bertemu dengan orang-orang pilihan Tuhan dan belajar dari mereka kecerdasan spiritual yang sangat tinggi, untuk menjadi manusia yang sesungguhnya, manusia pilihan Tuhan.
By M. Suyanto, STMIK AMIKOM Yogyakarta
Kita telah belajar banyak dari tukang kayu dalam menjalani hidup, terutama dalam menyikapi anaknya yang menderita autis. Kita telah belajar bagaimana tukang kayu memandang anak sebagai titipan Tuhan yang tidak bisa ditukar dengan yang anak yang lain dan berusaha menjaga titipan Tuhan tersebut dengan baik. Kita juga telah belajar bagaimana tukang kayu tersebut menjalani hidupnya dengan penuh kesabaran, ketabahan dan penuh kasih sayang dalam mendapingi, mendidik dan mengobati anaknya dengan harapan anaknya sembuh di kemudian hari. Doa ia lantunkan setiap hari kepada Allah, karena Allah yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit, tetapi hingga kini anak itu belum diberikan kesembuhan.
Kisah tukang kayu tersebut mengingatkan saya kepada kawan saya yang juga mempunyai anak yang menderita autis. Kawan tersebut tiba-tiba berkunjung ke kantor saya. Setelah dipersilakan masuk oleh sekretaris saya, ia mengucapkan salam kepada saya dan sayapun membalas salam tersebut. Kemudian saya berjabat tangan dengannya. Saya mempersilakan duduk dan menanyakan kabar keluarganya. Ia menjawab seperti biasanya baik-baik saja. Ia mengemukakan keinginannya untuk mengundang saya mengisi seminar Entrepreneurship di kampusnya. Ia telah membaca buku saya yang sederhana dengan judul SMART IN Entrepreneur : Belajar dari Pengusaha Top Dunia., yang memotivasinya untuk menjadi pengusaha dan ingin menularkan kepada mahasiswanya. Setelah berbicara panjang mengenai entrpreneurship dan bagaimana jiwa entrepreneurship tersebut tertanam pada mahasiswanya, ia mulai berbicara mengenai keluarganya. Ia mulai bercerita tentang anak-anaknya. ”Anak saya yang kecil menderita autis Pak Yanto. Saya bersama istri sudah berusaha untuk mengobatinya dengan biaya yang banyak, tetapi belum diberi kesembuhan” kata kawan saya tersebut. ”Saya berdoa kepada Allah mudah-mudah putra Bapak diberi kesembuhan dari-Nya. Allah yang menurunkan penyakit, sekaligus yang menyembukan penyakit itu” saya menghibur. ”Saya berusaha saya kuat-kuatkan Pak Yanto, tetapi kadangkala istri saya merasa tidak kuat, karena mendapat cobaan yang berat. Saya juga berusaha untuk membesarkan hatinya untuk tetap kuat” kata kawan saya. ”Andaikan saya yang menjadi Bapak, barang kali saya juga tidak kuat” saya mencoba memahami perasaannya.
Sejenak kemudian, ia melanjutkan ceritanya : ”Sebenarnya saya dan istri saya masih kuat Pak Yanto, tetapi kadangkala tetangga dan kawan saya memojokkan saya dan istri saya. Lebih-lebih orang tua dan mertua saya yang membuat saya semakin berat.” Kemudian ia menirukan apa yang dikatakan orang tuanya ”Kamu itu dosanya apa to nak, kok anakmu seperti itu”. Kawan saya tersebut tidak bisa menjawab dan merasa bertambah sedih. Memikirkan anaknya saja sudah bersedih, apalagi dikomentari oleh orang tua, kawan dan tetangganya. Saya dapat merasakan betapa sedihnya andaikata saya menjadi kawan saya tersebut. Kemudian saya berkata kepada kawan saya tersebut ”Sesungguhnya Bapak itu manusia pilihan Tuhan. Anak penderita autis itu hanya dititipkan kepada manusia pilihan saja. Tidak ditipkan kepada orang biasa, seperti saya”. Dengan mata berkaca-kaca kawan saya tersebut mengatakan ”Hanya Pak Yanto yang mengatakan seperti itu. Selama ini saya tidak pernah ada orang yang mengatakan seperti itu”. Saya sangat beruntung bertemu dengan orang-orang pilihan Tuhan dan belajar dari mereka kecerdasan spiritual yang sangat tinggi, untuk menjadi manusia yang sesungguhnya, manusia pilihan Tuhan.
Belajar Kecerdasan Spiritual dari Tukang Kayu (2)
Belajar Kecerdasan Spiritual dari Tukang Kayu (2)
By M. Suyanto, STMIK AMIKOM Yogyakarta
Orang tua yang memiliki anak penderita autis memang berat untuk mendidik dan mengobatinya. Kebanyakan anak autis adalah anak laki-laki karena tidak mempunyai hormon estrogen yang dapat menetralisir autismenya. Hormon testoteron yang dimiliki anak laki-laki justru memperparah keadaannya. Sebaliknya, anak perempuan mempunyai hormon estrogen, sehingga jika terserang autis, hormon tersebut mampu untuk menetralisirnya, maka sedikit sekali perempuan yang menderita autis. Autis memiliki sebaran yang lebar, mulai dari autis yang ringan sampai yang sangat berat. Penderita autis masih memungkinkan untuk sembuh, terutama autis yang ringan dengan terapi dini dan mengeluarkan racun atau logam berat yang ada dalam tubuh penderita autis. Penelitian dewasa ini juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, yang semakin memungkinkan kesembuhan bagi penderita autis.
Pada penderita autis terjadi autoimun pada tubuhnya, yang merugikan perkembangan tubuhnya sendiri karena zat-zat yang bermanfaat justru dihancurkan oleh tubuhnya sendiri. Imun adalah kekebalan tubuh terhadap virus atau bakteri pembawa penyakit. Sedangkan autoimun adalah kekebalan yagg dikembangkan oleh tubuh penderita sendiri yang justru kebal terhadap zat-zat penting dalam tubuh dan menghancurkannya berakibat tubuh penderita menjadi alergi terhadap banyak zat yang sebenarnya sangat diperlukan dalam perkembangan tubuhnya. Penderita harus diet ekstra ketat dengan pola makan yang diselang-seling setiap minggu. Soalnya jika terlalu sering dan lama makan sesuatu bisa menjadikan penderita alergi terhadap sesuatu itu. Dengan demikian penderita autis harus ditangani secara medis, disiplin dan teratur. Meskipun perkembangannya sangat lambat, tetapi harus dilakukan, karena ketidaktaatan pada penanganan dapat mengakibatkan sia-sia apa yang telah dilakukan dalam waktu yang sangat cepat.
Pekerjaan mendidik dan mengobati anaknya bersama istrinya membuat tukang kayu tersebut, menjadi sangat berat, apalagi kalau masih dicemooh, dicari kesalahan dan dipojokkan. Beratnya penderitaan orang tua dari anak yang menderita autis, kadangkala dapat menyebabkan kehancuran keluarga. Kecerdasan spiritual yang tinggi saja yang menyebabkan keluarga itu dapat bertahan. Mereka menginginkan anaknya yang menderita autis dapat hidup mandiri, dapat berkarya dan berprestasi dengan baik serta dapat diterima di masyarakat. Orang tua meminta dukungan dari lingkungan seketarnya, bukan mengkritik, mencemooh dan mencari-cari kesalahan orang tuanya. Tukang kayu bersama istrinya selain mengobati anaknya, juga berusaha memberikan kasih sayang, melayaninya dengan kesabaran dan selalu berpasrah diri pada Tuhan. Mereka selalu berdoa atas kesembuhan anaknya.
Kasih sayang, kesabaran dan kepasrahan yang panjang tersebut menjadikan tukang kayu tersebut punya keahlian khusus pada bagian finishing, yang hanya dimilki sedikit orang. “Saya bekerja keras seperti ini Bu, hanya habis untuk mengobati anak saya” kata tukang kayu kepada istri saya dengan mata yang berkaca-kaca. “Bapak dan istri Bapak adalah manusia yang luar biasa” kata istri saya. Bapak Tukang kayu tersebut terdiam mengecamkan kata-kata dari istri saya dan menggores di dalam hatinya yang paling dalam sambil menahan air matanya yang akan keluar.
By M. Suyanto, STMIK AMIKOM Yogyakarta
Orang tua yang memiliki anak penderita autis memang berat untuk mendidik dan mengobatinya. Kebanyakan anak autis adalah anak laki-laki karena tidak mempunyai hormon estrogen yang dapat menetralisir autismenya. Hormon testoteron yang dimiliki anak laki-laki justru memperparah keadaannya. Sebaliknya, anak perempuan mempunyai hormon estrogen, sehingga jika terserang autis, hormon tersebut mampu untuk menetralisirnya, maka sedikit sekali perempuan yang menderita autis. Autis memiliki sebaran yang lebar, mulai dari autis yang ringan sampai yang sangat berat. Penderita autis masih memungkinkan untuk sembuh, terutama autis yang ringan dengan terapi dini dan mengeluarkan racun atau logam berat yang ada dalam tubuh penderita autis. Penelitian dewasa ini juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, yang semakin memungkinkan kesembuhan bagi penderita autis.
Pada penderita autis terjadi autoimun pada tubuhnya, yang merugikan perkembangan tubuhnya sendiri karena zat-zat yang bermanfaat justru dihancurkan oleh tubuhnya sendiri. Imun adalah kekebalan tubuh terhadap virus atau bakteri pembawa penyakit. Sedangkan autoimun adalah kekebalan yagg dikembangkan oleh tubuh penderita sendiri yang justru kebal terhadap zat-zat penting dalam tubuh dan menghancurkannya berakibat tubuh penderita menjadi alergi terhadap banyak zat yang sebenarnya sangat diperlukan dalam perkembangan tubuhnya. Penderita harus diet ekstra ketat dengan pola makan yang diselang-seling setiap minggu. Soalnya jika terlalu sering dan lama makan sesuatu bisa menjadikan penderita alergi terhadap sesuatu itu. Dengan demikian penderita autis harus ditangani secara medis, disiplin dan teratur. Meskipun perkembangannya sangat lambat, tetapi harus dilakukan, karena ketidaktaatan pada penanganan dapat mengakibatkan sia-sia apa yang telah dilakukan dalam waktu yang sangat cepat.
Pekerjaan mendidik dan mengobati anaknya bersama istrinya membuat tukang kayu tersebut, menjadi sangat berat, apalagi kalau masih dicemooh, dicari kesalahan dan dipojokkan. Beratnya penderitaan orang tua dari anak yang menderita autis, kadangkala dapat menyebabkan kehancuran keluarga. Kecerdasan spiritual yang tinggi saja yang menyebabkan keluarga itu dapat bertahan. Mereka menginginkan anaknya yang menderita autis dapat hidup mandiri, dapat berkarya dan berprestasi dengan baik serta dapat diterima di masyarakat. Orang tua meminta dukungan dari lingkungan seketarnya, bukan mengkritik, mencemooh dan mencari-cari kesalahan orang tuanya. Tukang kayu bersama istrinya selain mengobati anaknya, juga berusaha memberikan kasih sayang, melayaninya dengan kesabaran dan selalu berpasrah diri pada Tuhan. Mereka selalu berdoa atas kesembuhan anaknya.
Kasih sayang, kesabaran dan kepasrahan yang panjang tersebut menjadikan tukang kayu tersebut punya keahlian khusus pada bagian finishing, yang hanya dimilki sedikit orang. “Saya bekerja keras seperti ini Bu, hanya habis untuk mengobati anak saya” kata tukang kayu kepada istri saya dengan mata yang berkaca-kaca. “Bapak dan istri Bapak adalah manusia yang luar biasa” kata istri saya. Bapak Tukang kayu tersebut terdiam mengecamkan kata-kata dari istri saya dan menggores di dalam hatinya yang paling dalam sambil menahan air matanya yang akan keluar.
Belajar Kecerdasan Spiritual dari Tukang Kayu (1)
Belajar Kecerdasan Spiritual dari Tukang Kayu (1)
By M. Suyanto, STMIK AMIKOM Yogyakarta
Kita dapat belajar kecerdasan spiritual dari semua orang, termasuk dari seorang tukang kayu. Tukang kayu merupakan seseorang yang bekerja dengan kayu. Mereka dapat membuat lemari, membangun rumah, maupun benda-benda lain dengan kayu. Ketika makan malam, istri saya bercerita tentang tentang salah seorang tukang kayu yang datang di rumah saya. Tukang kayu yang datang ke rumah saya adalah tukang kayu yang sedang mengerjakan almari buku pesanan keluarga saya. Tukang kayu di rumah saya tersebut di awasi oleh perancang almari yang mengerjakan proyek pesanan dari keluarga saya. Tukang kayu yang datang di rumah saya sejumlah empat orang. Merek menjadi tukang kayu, karena itulah keahlian satu-satunya yang mereka miliki. Dengan keahlian itu berusaha untuk bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Sejak pagi tukang kayu tersebut memasang almari di ruang perpustakaan keluarga saya. Bekerja secara teliti dan profesional dalam bahasa manajemen. Potongan almari tersebut dipasang satu demi satu. Ketika waktu istirahat tiba, tukang kayu tersebut diajak bicara istri saya. Ia mulai bercerita tentang keluarganya. Salah satu tukang kayu tersebut mulai berbicara dengan istri saya. ”Saya mempunyai anak satu Bu” kata tukang kayu tersebut. ”Oh putra Bapak satu ya” sahut istri saya. ”Saya semakin hari semakin sayang kepada anak saya yang semata wayang itu Bu” kata tukang kayu. ”Sebagai ayah memang harus begitu Pak” tambah istri saya.
Tukang kayu tersebut matanya mulai berkaca-kaca karena sesungguhnya anaknya yang semata wayang tersebut menderita autis. Anak penderita autis seperti seorang yang kerasukan setan, tetapi sesungguhnya tidak kerasukan setan ataupun gila. Selain tidak mampu bersosialisasi seperti hidup di dunianya sendiri, tidak peduli dengan orang lain dan orang lain yang di dekat dengannya hanya dianggap sebagai penyedia kebutuhan hidupnya. Penderita autis tidak dapat mengendalikan emosinya. Kadang tertawa terbahak, kadang marah tak terkendali. Dia sendiri tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Penderita autis memiliki gerakan aneh yang selalu diulang-ulang. Selain itu dia punya ritual sendiri yancg harus dilakukannya pada saat-saat atau kondisi tertentu. Seringkali keluarga terutama dituduh yang menyebabkan autis, karena tidak mampu mendidiknya. Pada hal autis bukan penyakit karena keluarga, sangat jarang autis disebabkan faktor genetis, Meskipun alergi memang bisa saja diturunkan, tapi alergi turunan tidak berkembang menjadi autoimun seperti pada penderita autis. Autis terjadi karena kegagalan pertumbuhan otak yang diakibatkan oleh keracunan logam berat seperti mercury yagg banyak terdapat dalam vaksin imunisasi atau pada makanan yg dikonsumsi ibu yang sedang hamil, misalnya ikan dengan kandungan logam berat yg tinggi atau karena nutrisi yg diperlukan dalam pertumbuhan otak tidak dapat diserap oleh tubuh, ini terjadi karena adanya jamur dalam lambungnya.
Dengan kondisi tersebut, maka untuk menjadi orang tua penderita autis ternyata dibutuhkan kecerdasan spiritual yang tinggi dan tidak semua orang tua mampu mendidiknya. Kemudian tukang kayu itu bercerita kembali kepada istri saya dengan wajah yang memilukan. “Andaikan anak itu sepeda motor, maka pasti sudah saya tukar dengan sepeda motor yang bagus. Tetapi Gusti Allah memberi saya seperti itu, saya tidak dapat menukarnya. Saya hanya dapat menerima dengan pasrah dan sabar Bu” kata tukang kayu kepada istri saya dengan mata yang berkaca-kaca.
By M. Suyanto, STMIK AMIKOM Yogyakarta
Kita dapat belajar kecerdasan spiritual dari semua orang, termasuk dari seorang tukang kayu. Tukang kayu merupakan seseorang yang bekerja dengan kayu. Mereka dapat membuat lemari, membangun rumah, maupun benda-benda lain dengan kayu. Ketika makan malam, istri saya bercerita tentang tentang salah seorang tukang kayu yang datang di rumah saya. Tukang kayu yang datang ke rumah saya adalah tukang kayu yang sedang mengerjakan almari buku pesanan keluarga saya. Tukang kayu di rumah saya tersebut di awasi oleh perancang almari yang mengerjakan proyek pesanan dari keluarga saya. Tukang kayu yang datang di rumah saya sejumlah empat orang. Merek menjadi tukang kayu, karena itulah keahlian satu-satunya yang mereka miliki. Dengan keahlian itu berusaha untuk bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Sejak pagi tukang kayu tersebut memasang almari di ruang perpustakaan keluarga saya. Bekerja secara teliti dan profesional dalam bahasa manajemen. Potongan almari tersebut dipasang satu demi satu. Ketika waktu istirahat tiba, tukang kayu tersebut diajak bicara istri saya. Ia mulai bercerita tentang keluarganya. Salah satu tukang kayu tersebut mulai berbicara dengan istri saya. ”Saya mempunyai anak satu Bu” kata tukang kayu tersebut. ”Oh putra Bapak satu ya” sahut istri saya. ”Saya semakin hari semakin sayang kepada anak saya yang semata wayang itu Bu” kata tukang kayu. ”Sebagai ayah memang harus begitu Pak” tambah istri saya.
Tukang kayu tersebut matanya mulai berkaca-kaca karena sesungguhnya anaknya yang semata wayang tersebut menderita autis. Anak penderita autis seperti seorang yang kerasukan setan, tetapi sesungguhnya tidak kerasukan setan ataupun gila. Selain tidak mampu bersosialisasi seperti hidup di dunianya sendiri, tidak peduli dengan orang lain dan orang lain yang di dekat dengannya hanya dianggap sebagai penyedia kebutuhan hidupnya. Penderita autis tidak dapat mengendalikan emosinya. Kadang tertawa terbahak, kadang marah tak terkendali. Dia sendiri tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Penderita autis memiliki gerakan aneh yang selalu diulang-ulang. Selain itu dia punya ritual sendiri yancg harus dilakukannya pada saat-saat atau kondisi tertentu. Seringkali keluarga terutama dituduh yang menyebabkan autis, karena tidak mampu mendidiknya. Pada hal autis bukan penyakit karena keluarga, sangat jarang autis disebabkan faktor genetis, Meskipun alergi memang bisa saja diturunkan, tapi alergi turunan tidak berkembang menjadi autoimun seperti pada penderita autis. Autis terjadi karena kegagalan pertumbuhan otak yang diakibatkan oleh keracunan logam berat seperti mercury yagg banyak terdapat dalam vaksin imunisasi atau pada makanan yg dikonsumsi ibu yang sedang hamil, misalnya ikan dengan kandungan logam berat yg tinggi atau karena nutrisi yg diperlukan dalam pertumbuhan otak tidak dapat diserap oleh tubuh, ini terjadi karena adanya jamur dalam lambungnya.
Dengan kondisi tersebut, maka untuk menjadi orang tua penderita autis ternyata dibutuhkan kecerdasan spiritual yang tinggi dan tidak semua orang tua mampu mendidiknya. Kemudian tukang kayu itu bercerita kembali kepada istri saya dengan wajah yang memilukan. “Andaikan anak itu sepeda motor, maka pasti sudah saya tukar dengan sepeda motor yang bagus. Tetapi Gusti Allah memberi saya seperti itu, saya tidak dapat menukarnya. Saya hanya dapat menerima dengan pasrah dan sabar Bu” kata tukang kayu kepada istri saya dengan mata yang berkaca-kaca.
Langganan:
Postingan (Atom)